PROSPEK
BIOETHANOL SEBAGAI PENGGANTI MINYAK TANAH
Sumber
: Gusmailina (Pusat Litbang Hasil Hutan, Bogor)
RINGKASAN
Bioetanol
(C2H5OH) merupakan salah satu bahan bakar nabati yang saat
ini menjadi primadona untuk mengggantikan minyak bumi. Minyak
bumi saat ini harganya semakin meningkat, selain kurang
ramah lingkungan juga termasuk sumber daya yang tidak dapat
diperbaharui. Bioetanol mempunyai kelebihan selain ramah
lingkungan, penggunaannya sebagai campuran BBM terbukti
dapat mengurangi emisi karbon monoksida dan asap lainnya
dari kendaraan. Saat ini bioethanol juga bisa dijadikan
pengganti bahan bakar minyak tanah. Selain hemat, pembuatannya
bisa dilakukan di rumah dengan mudah, lebih ekonomis dibandingkan
menggunakan minyak tanah. Dengan demikian bisnis bioetanol
di Indonesia mempunyai prospek yang cerah karena melimpahnya
bahan baku, seperti singkong, tebu, aren, jagung maupun
hasil samping pabrik gula (molase). Dari sektor kehutanan
bioetanol bisa dihasilkan dari sagu, nipah, dan aren.
Tulisan ini mencoba menguraikan secara global tentang prospek
beberapa komoditi sebagai sumber bioetanol untuk selanjutnya
dapat digunakan sebagai pengganti minyak tanah.
======================================================================
I. PENDAHULUAN
A.
Bioetanol
Bioetanol (C2H5OH) merupakan salah satu biofuel yang hadir
sebagai bahan bakal alternatif yang lebih ramah lingkungan
dan sifatnya yang terbarukan. Merupakan bahan bakar alternatif
yang diolah dari tumbuhan yang memiliki keunggulan karena
mampu menurunkan emisi CO2 hingga 18 %. Bioetanol dapat
diproduksi dari berbagai bahan baku yang banyak terdapat
di Indonesia, sehingga sangat potensial untuk diolah dan
dikembangkan karena bahan bakunya sangat dikenal masyarakat.
Tumbuhan yang potensial untuk menghasilkan bioetanol antara
lain tanaman yang memiliki kadar karbohidrat tinggi, seperti:
tebu, nira, aren, sorgum, ubi kayu, jambu mete (limbah jambu
mete), garut, batang pisang, ubi jalar, jagung, bonggol
jagung, jerami dan bagas Banyaknya variasi tumbuhan akan
lebih leluasa memilih jenis yang sesuai dengan kondisi tanah
yang ada. Sebagai contoh ubi kayu dapat tumbuh di tanah
yang kurang subur, memiliki daya tahan yang tinggi terhadap
penyakit dan dapat diatur waktu panennya. Namun kadar patinya
hanya 30 persen, lebih rendah dibandingkan dengan jagung
(70 persen) dan tebu (55 persen) sehingga bioetanol yang
dihasilkan jumlahnya pun lebih sedikit. Di sektor kehutanan
bioetanol dapat diproduksi dari sagu, siwalan dan nipah
serta kayu atau limbah kayu.
Minyak bumi saat ini harganya semakin meningkat, selain
kurang ramah lingkungan juga termasuk sumber daya yang tidak
dapat diperbaharui. Bioetanol dapat dihasilkan dari hasil
pertanian yang tidak layak/tidak bisa dikonsumsi, seperti
dari sampah/limbah pasar, limbah pabrik gula (tetes/mollases).
Yang penting bahan apapun yang mengandung karbohidrat &
gula, dapat diproses menjadi bioetanol. Melalui proses sakarifikasi
(pemecahan gula komplek menjadi gula sederhana), fermentasi,
dan distilasi, bahan-bahan tersebut dapat dikonversi menjadi
bahan bakar bioetanol. Untuk menjaga kestabilan pangan sebaiknya
bioetanol diproduksi dari bahan-bahan yang tidak layak/tidak
bisa dikonsumsi, seperti singkong gajah yang beracun, dari
sampah atau limbah apapun yang mengandung karbohidrat &
gula, melalui proses sakarifikasi (pemecahan gula komplek
menjadi gula sederhana), fermentasi, dan distilasi, bahan-bahan
tersebut akhirnya dikonversi menjadi bioetanol.
Produksi etanol nasional pada tahun 2006 mencapai 200 juta
liter. Kebutuhan etanol nasional pada tahun 2007 diperkirakan
mencapai 900 juta kiloliter (Surendro, 2006). Saat ini bioetanol
diproduksi dari tetes tebu, singkong maupun dari jagung.
Alternatif lain bahan baku bioetanol yaitu biomassa berselulosa.
Biomassa berselulosa merupakan sumber daya alam yang berlimpah
dan murah serta memiliki potensi untuk produksi komersial
industri etanol atau butanol. Selain dikonversi menjadi
biofuel, biomassa berselulosa juga dapat mendukung produksi
komersial industri kimia seperti asam organik, aseton atau
gliserol (Wymann, 2002).
Bioetanol adalah cairan yang dihasilkan dari proses fermentasi
gula dari sumber karbohidrat dengan bantuan mikroorganisme
(Anonim, 2007). Bioetanol dapat juga diartikan juga sebagai
bahan kimia yang memiliki sifat menyerupai minyak premium
(Khairani, 2007). Bahan baku pembuatan bioetanol ini dibagi
menjadi tiga kelompok yaitu: bahan sukrosa (nira, tebu,
nira nipah, nira sargum manis, nira kelapa, nira aren, dan
sari buah mete), bahan berpati (bahan yang mengandung pati
atau karbohidrat seperti tepung ubi, tepung ubi ganyong,
sorgum biji, jagung, cantel, sagu, ubi kayu, ubi jalar,
dan lain–lain, dan bahan berselulosa/lignoselulosa
(tanaman yang mengandung selulosa /serat seperti kayu, jerami,
batang pisang, dan lain-lain. Dari ketiga jenis bahan baku
tersebut, bahan berselulosa merupakan bahan yang jarang
digunakan dan cukup sulit untuk dilakukan. Hal ini karena
adanya lignin yang sulit dicerna sehingga proses pembentukan
glukosa menjadi lebih sulit dan sedikit (Khairani, 2007).
B.
Biogasoline (gasohol) dan perkembangannya
Gasohol adalah campuran antara bioetanol dan bensin dengan
porsi bioetanol sampai dengan 25% yang dapat langsung digunakan
pada mesin mobil bensin tanpa perlu memodifikasi mesin.
Hasil pengujian kinerja mesin mobil bensin menggunakan gasohol
menunjukkan gasohol E-10 (10% bioetanol ) dan gasohol E-20
(20% bioetanol) menunjukkan kinerja mesin yang lebih baik
dari premium dan setara dengan pertamax. (The Largest Aceh
Community, 2008). Bahan campuran ini juga menghasilkan emisi
karbon monoksida dan total hidrokarbon yang lebih rendah
dengan yang lainnya. Biogasoline atau dikenal juga dengan
nama Gasohol, telah dijual secara luas di Amerika Serikat,
dengan campuran 10% bioetanol (dari bahan baku jagung) dan
90% gasoline. Di Brazil, bioetanol untuk campuran gasoline
dibuat dari bahan baku tebu, dan digunakan dalam kadar 10%.
Di Finlandia, biogasoline yang digunakan memiliki kadar
bioetanol 5% dan memiliki angka oktan 98. Di Jepang, sejak
tahun 2005 sudah mulai digunakan gasoline dengan campuran
3% bioetanol, dan diharapkan pada tahun 2012 seluruh gasoline
yang dijual di Jepang sudah menggunakan biogasoline. Sejak
tahun 2006 Thailand telah menjual gasohol 95, dan direncanakan
pada tahun 2012 Thailand akan mengganti seluruh gasoline
dengan biogasoline.
Lebih awal lagi Brazil sejak tahun 1925 telah mengembangkan
bioetanol yang bersumber dari tebu dengan melakukan ujicoba
pada kendaraan. Pengembangan mengalami proses yang cukup
lama namun mendapat dukungan penuh dari pemerintah dalam
bentuk regulasi dan insentif, sehingga saat ini pengembangan
biofuel di Brazil telah menggunakan mekanisme pasar. Dari
seluruh produksi tebu, perbandingan untuk pemanfaatan sebagai
gula dan bioetanol adalah sekitar 50:50. Biaya produksi
bioetanol tergolong murah karena sumber bahan bakunya merupakan
limbah pertanian atau produk pertanian yang nilai ekonomisnya
rendah serta berasal dari hasil pertanian budidaya tanaman
pekarangan (hortikultura) yang dapat diambil dengan mudah
Sebagai sebagai bahan bakar bioetanol mempunyai beberapa
kelebihan, diantaranya lebih ramah lingkungan, karena bahan
bakar tersebut memiliki nilai oktan 92 lebih tinggi dari
premium nilai oktan 88, dan pertamax nilai oktan 94. Hal
ini menyebabkan bioetanol dapat menggantikan fungsi zat
aditif yang sering ditambahkan untuk memperbesar nilai oktan.
Zat aditif yang sering digunakan seperti metal tersier butil
eter dan Pb, namun zat aditif tersebut sangat tidak ramah
lingkungan dan bisa bersifat toksik. Bioetanol merupakan
bahan bakar yang tidak mengakumulasi gas karbon dioksida
(CO2) dan relatif kompetibel dengan mesin mobil berbahan
bakar bensin. Kelebihan lain dari bioetanol ialah cara pembuatannya
yang lebih sederhana yaitu fermentasi menggunakan mikroorganisme
tertentu (Mursyidin, 2007).
Bulan Agustus 2006, Pertamina telah meluncurkan produk BioPremium,
namun masih terbatas di SPBU Jl. Mayjen M. Wiyono, Malang.
BioPremium yang dijual dibuat dari campuran BBM Premium
dan 5% bioetanol. Bioetanol untuk campuran BioPremium diproduksi
oleh PT Molindo Raya Industrial (MRI) di Lawang dengan bahan
baku tetes tebu. Sejak diluncurkan, respon masyarakat cukup
baik, dengan meningkatnya omzet penjualan. Sedangkan di
Jakarta, sejak Desember 2006 sudah bisa dilihat BioPertamax
di beberapa SPBU, antara lain di SPBU di Jl. Tentara Pelajar,
Senayan. Pengembangan selanjutnya di wilayah Jawa Barat,
di mana Pertamina meluncurkan BioPremium di Bandung tahun
2007. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, direncanakan akan
didirikan pabrik etanol berkapasitas 200 juta liter etanol
per tahun oleh LBL Network Ltd. dari Korea Selatan bekerja
sama dengan PT Mitra Sae Internasional di Kuningan, dengan
bahan dasar ubi kayu spesies Manihot esculanta trans.w (http://www.pertamina.com)
II.
POTENSI SUMBER BIOETANOL
A.
1. Potensi sagu
Sagu
(Metroxylon spp) merupakan salah satu komoditas hasil hutan
bukan kayu (HHBK). Tumbuhan ini merupakan tumbuhan penghasil
karbohidrat yang cukup tinggi dibanding dengan tanaman penghasil
karbohidrat lainnya. Secara alami tumbuhan sagu tersebar
hampir di setiap pulau atau kepulauan di Indonesia dengan
luasan terbesar terpusat di Papua, sedangkan sagu semi budidaya
terdapat di Maluku, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera. Tumbuhan
ini merupakan asli Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebagai
energi mix atau sebagai pencampur premium dan pertamax (E)
atau dalam kondisi tertentu dari mesin dapat digunakan secara
penuh (E100).
Populasi tumbuhan sagu di Indonesia diperkirakan terbesar
di dunia sekitar 1,2 juta ha dan 90% diantaranya tumbuh
di propinsi Papuas dan Maluku (Flach, 1997). Ke dua daerah
tersebut termasuk pusat keragaman sagu tertinggi didunia,
juga di beberapa daerah lain yang sudah mulai dimanfaatkan
potensinya (semi budidaya). Informasi luas hutan alam sagu
Indonesia menurut Flach (1997) yaitu 1.250.000 ha, yang
tersebar di Papua 1.200.000 ha dan Maluku 50.000ha serta
148.000 ha hutan sagu semi budidaya yang tersebar di Papua,
Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, kepulauan Riau dan
Kepulauan Mentawai (Sumatera Barat). Akan tetapi dari luasan
tersebut hanya sekitar 40% saja yang merupakan areal penghasil
pati produktif dengan produktivitas pati 7 ton/ha/tahun
atau setara dengan etanol 3,5 kl/ha/tahun.
Menurut
Poniman (1996) di Irian Jaya terdapat sekitar 1.406.469
ha tegakan sagu. Setiap ha tegakan sagu per tahun paling
sedikit dihasilkan 2,5 ton pati sagu (Flach, 1983). Dengan
demikian di Irian Jaya terdapat potensi pati sagu sekitar
3.516.176 ton sagu/tahun. Untuk kebutuhan pangan, masyarakat
Irian membutuhkan sekitar 150.000 ton sagu/tahun. Dari data
ini di Itian Jaya terdapat potensi sagu sekitar 3,1 juta
ton yang menunggu pemanfaatannya. di Mentawai (Rasyad, 1996)
terdapat sekitar 56.100 ha tegakan sagu dengan produksi
sekitar 1.200 ton. Dengan demikian di Mentawai terdapat
potensi pati sagu sekitar 139.000 ton/tahun. Di Padang Pariaman
terdapat tegakan sagu sekitar 95.790 ha dengan produksi
5.063 ton/tahun (Zuki, 1996), di daerah ini terdapat potensi
sagu yang belum dimanfaatkan sebanyak 234.412 ton sagu/tahun.
Dari penjelasan tersebut potensi sagu sangat tinggi dan
sudah saatnya dilakukan pemanfaatan pohon sagu agar tidak
mubazir. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan,
telah merintis pemanfaatan sagu menjadi bioetanol, baik
skala laboratorium mapun skala usaha kecil. Dan ini merupakan
penelitian awal dalam rangka menuju optimalisasi produksi
dan produktivitas bioetanol dari sagu.
A.2.
Pati Sagu sebagai Sumber Bioetanol
Pati
sagu disebut juga poliglukosa, karena unit monomernya glukosa.
Pati sagu lebih murni karena miskin kandungan lemak, protein
dan senyawa lain, sehingga pati sagu sangat cocok digunakan
sebagai bahan baku pembuatan turunan pati seperti dekstrin,
dekstrose, gula, dan produk turunan lainnya. Pati sagu diekstrak
dari empulur batang yang mengandung pati (27-31%), serat
(20-24%) dan air (45-53%). Ekstraksi dilakukan dengan metode
aliran air, sehingga air sangat berpengaruh terhadap kualitas
mutu sagu. Bioetanol dari sagu berasal dari dua bagian yaitu
pati sagu dan serat sagu. Sedangkan prosesnya berlangsung
dalam empat tahapan yaitu : 1) hidrolisa bahan menjadi oligosacharida;
2) hidrolisa oligosacharida menjadi gula; 3) konversi gula
menjadi etanol, 4) pemurnian bioetanol.
Pembuatan etanol dari pati dapat dilakukan secara kimia
ataupun biologis. Akan tetapi jika berbicara “bioetanol”
tentunya proses yang dipakai adalah secara biologis. dengan
menggunakan enzim alfa dan glucoamilase yang mampu mengurai
pati menjadi gula dan selanjutnya difermentasi lanjut menjadi
bioetanol. Bioetanol dapat diperoleh dari serat dengan menggunakan
enzim selulase. Efektivitas proses ini dipengaruhi oleh
jenis enzim, kekentalan bahan (ratio pati dan air), presentase
enzim dan proses fermentasi. Langkah-langkah pembuatan bioetanol
berbahan sagu sebagai berikut:
Sagu (empelur) di parut ? dipanaskan ? aduk rata ? dinginkan
? tambahkan enzim ? aduk rata ? tambahkan urea dan NPK ?
aduk rata ? fermentasi ? distilasi ? bioetanol ? pemurnian
Proses fermentasi berlangsung beberapa jam setelah semua
bahan dimasukkan ke dalam fermentor. Proses ini berjalan
ditandai dengan keluarnya gelembung-gelembung udara kecil-kecil
Gelembung-gelembung udara ini adalah gas CO2 yang dihasilkan
selama proses fermentasi. Selama proses fermentasi usahakan
agar suhu tidak melebihi 36 oC dan pH nya dipertahankan
4.5 – 5. Proses fermentasi berjalan kurang lebih selama
2 sampai 3 hari. Salah satu tanda bahwa fermentasi sudah
selesai adalah tidak terlihat lagi adanya gelembung-gelembung
udara.
Setelah
proses fermentasi selesai, masukkan cairan fermentasi ke
dalam evaporator atau boiler. Panaskan dengan suhu dipertahankan
antara 79 – 81 oC. Pada suhu ini bioetanol sudah menguap,
tetapi air tidak menguap. Uap etanol dialirkan ke distilator.
Bioetanol akan keluar dari pipa pengeluaran distilator.
Distilasi pertama, biasanya kadar bioetanol masih di bawah
95%. Apabila kadar bioetanol masih di bawah 95%, distilasi
perlu diulangi lagi (reflux) hingga kadar bioetanolnya 95%.
Jika kadar bioetanolnya sudah 95% dilakukan dehidrasi atau
penghilangan air. Untuk menghilangkan air bisa menggunakan
kapur tohor atau zeolit sintetis. Tambahkan kapur tohor
pada etanol. Biarkan semalam. Setelah itu didistilasi lagi
hingga kadar airnya berkurang, dan kadar bioetanol yang
diperoleh dapat mencapai 98-99%.
B.
Bioetanol dari TKKS
Tandan
kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan limbah biomassa selulosa
yang memiliki potensi besar dengan kelimpahan cukup tinggi.
TKKS merupakan hasil samping dari pengolahan minyak kelapa
sawit yang pemanfaatannya masih terbatas sebagai pupuk,
bahan baku pembuatan matras dan media bagi pertumbuhan jamur
serta tanaman. Hasil penelitian Iriani (2009) bertujuan
untuk mendapatkan kondisi sakarifikasi terbaik padaTKKS
dengan menggunakan Trichoderma reesei dan melakukan fermentasi
alkohol oleh Saccharomyces cerevisiae, yang masing-masing
menghasilkan konsentrasi gula pereduksi dan alkohol paling
tinggi . TKKS yang digunakan selama proses sakarifikasi
terlebih dulu diberi perlakuan awal yakni dengan pemanasan
di suhu 1210C, dengan tekanan 1,5 atm selama 90 menit. Sakarifikasi
menggunakan metode fermentasi padat, yakni dengan menginokulasikan
suspensi spora T.reesei sebanyak 10% v/b (3,5-7,4`x108sel/mL)
ke dalam TKKS yang telah ditambahkan medium basal Mandels
& Waber dan akuades dengan perbandingan 3:4, sehingga
kelembaban mencapai 70 %. Sakarifikasi dilakukan selama
8 hari. Parameter yang diamati setiap 48 jam adalah kadar
gula pereduksi, aktivitas CMCase (endoglukanase), beta-glukosidase
dan pH medium. Optimasi suhu sakarifikasi yang dilakukan
adalah pada suhu 250C, 300C dan 350C. Suhu sakarifikasi
terbaik diperoleh pada 300C, dengan kadar gula pereduksi
paling tinggi 1,46 mg/g substrat yang diperoleh pada hari
ke-8. Selanjutnya suhu tersebut digunakan pada penentuan
pH awal terbaik padamedium sakarifikasi dengan nilai pH
4,5 ; 5; 5,5 ; dan 6. Konsentrasi gulapereduksi paling tinggi
ada pada pH awal medium 5,5 yakni sebesar 1,5 mg/gsubstrat
pada hari ke-8.Sakarifikasi ulang dilakukan dengan menggunakan
suhu dan pH awal terbaikselama 12 hari. Filtrat gula hasil
sakarifikasi hari ke-12 digunakan sebagaisubstrat fermentasi
alkohol. Inokulum fermentasi yang digunakan adalah Saccharomyces
cereviseae sebanyak 5% v/v (5,35 x 108 sel/mL) sel diinokulasikan
ke dalam medium dan difermentasi secara anaerob selama 96
jam.
Parameter yang diamati adalah kadar gula pereduksi, kadar
etanol, jumlah sel serta pH medium. Konsentrasi etanol paling
tinggi yang dihasilkan pada fermentasi selama 72 jam sebesar
0,046 % dengan konversi gula menjadi etanol sebesar 47,32%.
Kandungan selulosa TKKS sekitar 45.80% dan hemiselulosa
26.00%. Jika perhitungan minimal menurut Badger (2002) maka
potensi bioetanol dari TKKS adalah sebesar 2,000 juta liter
atau setara dengan 1446.984 liter bensin (Anonim, 2008).
Produksi bioetanol berbahan baku limbah kelapa sawit layak
diusahakan karena tingkat keuntungan mencapai 75 %.
C.
Bioetanol dari pati Ganyong (Canna edulis)
Di
Indonesia Ganyong (Canna edulis) merupakan tanaman yang
memiliki banyak manfaat, antara lain: umbi mudanya untuk
sayuran, umbi tuanya dapat diperas patinya untuk dibuat
tepung, sedangkan daun dan tangkainya dapat digunakan untuk
pakan ternak (Rukmana, 2000). Umbi ganyong mengandung karbohidrat
yang cukup tinggi sehingga dapat digunakan sebagai bahan
dasar untuk produksi glukosa dan fermentasi etanol. Hidrolisis
pati dapat dilakukan dengan katalis asam, kombinasi asam
dan enzim, serta kombinasi enzim dan enzim (Judoamidjojo
et al., 1992). Hasil penelitian Wulansari (2004) dan Putri
& Sukandar (2008) menunjukkan bahwa pati ganyong memiliki
kadar karbohidrat 80% dan kadar air 18%, Pati ganyong memiliki
warna putih kecoklatan dan tekstur halus. Kadar pati yang
tinggi menunjukkan bahwa pati ganyong dapat dijadikan bahan
baku untuk pembuatan sirup glukosa kadar pati yang tinggi
menunjukkan bahwa pati ganyong juga dapat dijadikan bahan
baku untuk bioetanol. Jenis asam dan konsentrasi asam tidak
berpengaruh signifikan terhadap gula pereduksi yang dihasilkan
pada hidrolisis pati ganyong, hidrolisis optimum didapat
dengan HNO3 7% (DE = 28,4 ). Kadar glukosa pada fermentasi
mempengaruhi kadar etanol yang dihasilkan, pada penelitian
ini fermentasi dengan kadar glukosa hasil hidrolisis sebesar
4,81% menghasilkan etanol 4,84%, sedangkan dengan kadar
glukosa 14% etanol yang dihasilkan meningkat menjadi 8,6%.
D.
Bioetanol dari Nira Sorgum
Sorgum
(Sorgum bicolor L.) merupakan salah satu jenis tanaman serelia
yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia
karena mempunyai area adaptasi yang luas. Sorgum merupakan
tanaman yang bukan asli Indonesia, melainkan dari Ethiopia
dan Sudan Afrika. Di Indonesia sorgum mempunyai beberapa
nama seperti gandrung, jagung pari, dan jagung canthel.
Tanaman ini toleran terhadap kekeringan dan genangan air,
dapat berproduksi pada lahan marginal, serta relatif tahan
terhadap gangguan hama atau penyakit. Selama ini batang
sorgum hanya digunakan untuk pakan ternak. Nira sorgum yang
berasal dari batang tanaman sorgum bisa dimanfaatkan untuk
membuat bioetanol, karena komposisi nira sorgum hampir sama
dengan nira tebu. Batang sorgum apabila diperas akan menghasilkan
nira yang rasanya manis. Kadar air dalam batang sorgum kurang
lebih 70 persen yang artinya kandungan niranya kurang lebih
hamper sama. Selama ini batang sorgum yang menghasilkan
nira biasanya hanya digunakan sebagai pakan ternak, sehingga
belum memiliki nilai ekonomis yang optimal. Mengingat nira
sorgum mengandung kadar glukosa yang cukup besar (Tabel
1), serta memiliki kualitas setara dengan nira tebu, maka
sorgum boleh menjadi pertimbangan sebagai salah satu potensi
penghasil bioetanol masa depan.
Tabel 1. Perbandingan komposisi nira sorgum dengan nira
tebu
Komposisi
Nira sorgum Nira tebu
Brix (%) 13,60 – 18,40 12 – 19
Sukrosa (%) 10 – 14,40 9 - 17
Gula reduksi (%) 0,75 – 1,35 0,48 – 1,52
Gula total (%) 11 – 16 10 – 18
Amilum (ppm) 209 - 1.764 1,50 – 95
Asam akonitat (%) 0,56 0,25
Abu (%) 1,28 – 1,57 0,40 – 0,70
Sumber : Direktorat Jendral Perkebunan (1996).
Hasil
penelitian Sari (2009), menunjukkan bahwa variabel yang
paling berpengaruh adalah variabel % volume starter. Setelah
dilakukan optimasi terhadap variabel tersebut, kondisi optimum
diperoleh dari proses fermentasi yang menggunakan Saccharomyces
ceerevisiae pada waktu fermentasi 7 hari, kadar glukosa
14,5 %, serta penambahan starter 9 % dari volume total.
Bioetanol yang dihasilkan adalah 11,82 %. dengan konversi
bioetanol yang cukup tinggi yaitu sebesar 46,21 %. Sorgum
yang selama ini dikenal sebagai bahan pangan juga berprospek
menjadi bahan bioetanol, 2,5 kg sorgum kawali dapat menjadi
seliter bioetanol.
E.
Bioetanol dari Tetes Tebu ( Molase )
Molase
atau tetes tebu mengandung kurang lebih 60% sellulosa dan
35,5% hemiselullosa. Kedua bahan polysakarida ini dapat
dihidrolisis menjadi gula sederhana yang selanjutnya dapat
difermentasi menjadi ethanol. Potensi produksi molase ini
per ha kurang lebih 10 – 15 ton, Jika seluruh molase
per ha ini diolah menjadi ethanol (fuel grade ethanol),
maka potensi produksinya kurang lebih 766 hingga 1,148 liter/ha
FGE. Produksi bioetanol berbahan baku molase layak diusahakan
karena tingkat keuntungan mencapai 24%.
F.
Bioetanol dari Jerami Padi
Jerami
padi mengandung kurang lebih 39% sellulosa dan 27,5% hemiselullosa.
Kedua bahan polysakarida ini dapat dihidrolisis menjadi
gula sederhana yang selanjutnya dapat difermentasi menjadi
bioethanol. Potensi produksi jerami padi per ha kurang lebih
10 – 15 ton, jerami basah dengan kadar air kurang
lebih 60%. Jika seluruh jerami per ha ini diolah menjadi
ethanol (fuel grade ethanol), maka potensi produksinya kurang
lebih 766 hingga 1,148 liter/ha FGE (perhitungan ada di
lampiran). Dengan asumsi harga ethanol fuel grade sekarang
adalah Rp. 5500,- (harga dari pertamina), maka nilai ekonominya
kurang lebih Rp. 4,210,765 hingga 6,316,148 /ha.
Menurut data BPS tahun 2006, luas sawah di Indonesia adalah
11.9 juta ha. Artinya, potensi jerami padinya kurang lebih
adalah 119 juta ton. Apabila seluruh jerami ini diolah menjadi
bioethanol maka akan diperoleh sekitar 9,1 milyar liter
bioethanol (FGE) dengan nilai ekonomi Rp. 50,1 trilyun.
Jika dihitung-hitung ethanol dari jerami sudah cukup untuk
memenuhi kebutuhan bensin nasional. Kandungan jerami padi
cocok untuk diolah menjadi bioetanol, namun perlu dipertimbangkan
juga terhadap hara yang harus dikembalikan lagi ke lahan
setelah panen dilakukan.
Potensi bioetanol dari jerami padi menurut Kim and Dale
(2004) adalah sebesar 0.28 l/kg jerami. Sedangkan kalau
dihitung dengan cara Badger (2002) adalah sebesar 0.20l/kg
jerami, sehingga dari data ini bisa diperkirakan berapa
potensi bioetanol dari jerami padi di Indonesia (Tabel 3).
Jika prediksi minimal dengan cara Badger (2002), maka jumlah
bioetanol yang dihasilkan dapat menggantikan bensin sejumlah
7,915 - 11,874 juta liter, artinya cukup untuk memenuhi
kebutuhan bensin nasional selama satu tahun.
Tabel 3. Potensi bioetanol dari jerami padi
Prediksi Prediksi potensi bioetanol
Kim and Dale (2004) 15,316 juta liter - 22,974 juta liter
Badger (2002) 10,940 juta liter - 16,410 juta liter
G. Bioetanol dari bonggol pisang
Bonggol
pisang memiliki komposisi 76% pati, 20% air, sisanya adalah
protein dan vitamin (Yuanita, 2008). Kandungan korbohidrat
bonggol pisang tersebut sangat berpotensi sebagai sumber
bioetanol. Bonggol pisang (Gambar 4) juga dapat dimanfaatkan
untuk diambil patinya, pati ini menyerupai pati tepung sagu
dan tepung tapioka. Bahan berpati yang digunakan sebagai
bahan baku bioetanol disarankan memiliki sifat yaitu berkadar
pati tinggi, memiliki potensi hasil yang tinggi, fleksibel
dalam usaha tani dan umur panen yang pendek (Prihandana,
2007).
Bonggol
pisang dikupas dan dibersihkan dari kotoran, kemudian dipotong
kecil-kecil lalu dikeringkan dengan cara dijemur dan diangin-anginkan
sampai kering. Bonggol pisang dibuat kering bertujuan agar
lebih awet dan menghilangkan kandungan airnya sehingga diperoleh
bonggol yang kering dan dapat disimpan sebagai cadangan
bahan baku (Anonim, 2008). Bonggol pisang kering digiling
dengan mesin penggiling atau ditumbuk dengan penumbuk sehingga
menjadi serbuk halus. Serbuk bonggol pisang lalu disaring
atau diayak sehingga diperoleh pati yang homogen. Hasil
penelitian Assegaf (2009), menyimpulkan bahwa Bonggol pisang
(Musa paradisiacal) mempunyai prospek sebagai sumber bioetanol.
Metode yang diterapkan adalah metode hidrolisis asam dan
enzimatis, namun dari kedua metode tsb metode hidrolisis
secara enzimatis merupakan proses yang lebih baik dibandingkan
hidrolisis dengan katalis asam.
H.
Bioetanol dari sigkong karet (singkong gajah)
Singkong
karet merupakan salah satu jenis singkong pohon yang mengandung
senyawa beracun, yaitu asam sianida (HCN), sehingga tidak
diperdagangkan dan kurang dimanfaatkan oleh masyarakat (Anonim,
2006). Singkong karet (singkong gajah) kurang dimanfaatkan
secara maksimal oleh masyarakat karena beracun, oleh karena
itu sangat tepat sekali bila singkong jenis ini digunakan
sebagai bahan baku bioetanol. Penelitian Sriyanti (2003),
menunjukkan bahwa dari tiga varietas singkong yakni varietas
randu, mentega dan menthik ternyata kadar gula dan alkohol
tertinggi terdapat pada varietas mentega yakni sebesar 11,8%
mg untuk kadar gula, dan 2,94% mg untuk kadar alkohol. Menurut
Sugiarti (2007) dalam Setyaningsih (2008), bahwa kandungan
alkohol ubi kayu varietas randu yakni sebesar 51%. Menurut
Ludfi (2006) dalam Setyaningsih (2008), setelah dilakukan
pengujian terhadap kadar alcohol pada hasil fermentasi ampas
umbi singkong karet, maka hasil penelitian menunjukkan bahwa
kadar alkohol terendah adalah 11,70% pada waktu fermentasi
9 hari dan dosis ragi 2 gr. Sedangkan kadar alkohol tertinggi
adalah 41,67% pada waktu fermentasi 15 hari dan dosis ragi
8 gr.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melakukan uji coba
pengembangan energi alternatif bioetanol dari bahan dasar
singkong. Untuk menghasilkan bioetanol sekitar satu liter
dibutuhkan sedikitnya 6,5 kilogram singkong. Bioetanol yang
dihasilkan nantinya bisa untuk oktan 40% atau seperti minyak
tanah, 70% seperti premium bahkan 90% seperti Pertamax.
Biaya produksi untuk satu liternya sekitar Rp3.000 jadi
kalau dijual Rp4.000 atau Rp5.000 tetap lebih murah dari
premium.
I.
Bioetanol dari Talas (Colocasia Esculenta)
Tanaman
talas bentul (Colocasia esculenta L.) mempunyai nama lain
Inggris yaitu taro, old cocoyam, dasheen, eddoe. Nama Prancis
adalah taro. Di Indonesia dikenal dengan nama bentul, talas,
keladi. Tanaman ini tumbuh dengan baik di tanah yang basah
dengan temperatur 25–30 oC dan dengan kelembaban yang
tinggi. Talas tumbuh dari ketinggian 1200 m dpl di Malaysia,
di Filipina 1800, dan bahkan 2700 m di Papua New Guinea.
Tanaman ini toleran terhadap naungan /tempat teduh dan ditanam
sebagai tanaman selingan pada pertanian. Kadar pati talas
66.8 % sedangkan kadar air sekitar 7,2 %.
Retno, dkk., (2008) meneliti bioetanol dari tepung talas.
Tepung talas kering selanjutnya digunakan pada reaksi hidrolisa
dengan katalis enzim alpha amylase pada pH 6.9 suhu 80oC
dan katalis enzim Glucoamylase pada pH 4.8 suhu 55 oC untuk
menghasilkan glukosa. Bioetanol yang diperoleh dari 8.7
kg tepung talas sebesar 1006 ml. Biaya yang dibutuhkan pada
pembuatan etanol fuel grade dari tepung Talas (Colocasia
esculenta) dengan kadar 99.4 %, sebesar Rp. 6,625,00/ Liter
(enam ribu enam ratus dua puluh lima per liter).
III.
BIOETANOL SUMBER ENERGI TERBARUKAN YANG RAMAH LINGKUNGAN
Penggunaan
bioetanol sebagai campuran BBM dapat mengurangi emisi karbon
monooksida dan asap lainnya dari kendaraan. Hal ini sudah
dibuktikan oleh beberapa negara yang sudah lebih dulu mengaplikasikannya,
seperti Brazil dan Jepang. Perkembangan bisnis bioetanol
di Indonesia seharusnya juga bisa menyamai kedua negara
tersebut. Dengan melimpahnya bahan baku, seharusnya kita
bisa menggantikan sebagian pemakaian BBM yang sudah semakin
langka dengan bioetanol. Selain untuk bahan bakar (Fuel
Grade Ethanol), Bioethanol dapat digunakan untuk industri
kimia, farmasi, kedokteran, kosmetik, bahan baku aneka minuman,
dll.
Bioethanol bisa dijadikan pengganti bahan bakar minyak tanah.
Selain hemat, pembuatannya bisa dilakukan di rumah sendiri
dengan mudah, selain itu juga lebih ekonomis dibandingkan
menggunakan minyak tanah. Bila sehari menggunakan minyak
tanah seharga Rp 16 ribu, maka dengan bioethanol bisa hemat
Rp 4 ribu. Pengalaman membuat dan menggunakan bioethanol
ini diceritakan oleh Bambang Kisudono, warga kota Surabaya
yang memanfaatkan sampah dapurnya untuk membuat dan mengembangkan
bioethanol di lingkungannya. Awalnya Lembaga Penelitian
dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi
Surabaya (ITS) dari kajiannya menyimpulkan bahwa bioethanol
dengan kompor khusus terbukti lebih efisien ketimbang kompor
kerosin. Sehingga membuat Bambang berinisiatif melakukan
pengolahan bioethanol sendiri.
Perbandingan
penggunaan bioethanol dan minyak tanah adalah 1:3. Artinya
dengan 3 liter minyak tanah, sebanding dengan satu liter
bio-ethanol. Dengan volume 100 cc akan membuat api menyala
sekitar 30-40 menit. Bahkan menurut peneliti bio-ethanol
Ir Sri Nurhatika MP di ITS, Surabaya, mengemukakan lebih
hemat lagi karena perbandingan 1 liter bioetanol sama dengan
9 liter minyak tanah. Skala rumahan proses pembuatan bioethanol
terbagi tiga, yaitu bahan berpati, bergula dan bahan selulosa.
Bahan baku bergula, misalnya tebu, nira, dan aren. Sedangkan
bahan berpati, misalnya sagu, ubi kayu, jagung, biji sorgum,
dan kentang manis. Bahan ini umumnya dimakan oleh manusia.
Sehingga sebaiknya pengembangan bioethanol masa depan lebih
ditujukan kepada penggunaan bahan yang tidak dimakan manusia,
sehingga tidak mengganggu ketahanan pangan nasional.
IV.
PENUTUP (PELUANG DAN PROSPEK)
Bioetanol
adalah bahan bakar alternatif masa depan yang ramah lingkungan
dan bersifat renewable,Bioetanol mempunyai kelebihan selain
ramah lingkungan, penggunaannya sebagai campuran BBM terbukti
dapat mengurangi emisi karbon monoksida dan asap lainnya
dari kendaraan. Saat ini bioethanol juga bisa dijadikan
pengganti bahan bakar minyak tanah. Selain hemat, pembuatannya
bisa dilakukan di rumah dengan mudah, lebih ekonomis dibandingkan
menggunakan minyak tanah. Dengan demikian bisnis bioetanol
di Indonesia mempunyai prospek yang cerah karena melimpahnya
bahan baku, seperti singkong, tebu, aren, jagung maupun
hasil samping pabrik gula (molase). Dari sektor kehutanan
bioetanol bisa dihasilkan dari sagu, nipah, dan aren.merupakan
salah satu bahan bakar nabati yang saat ini menjadi primadona
untuk mengggantikan minyak bumi.
Mengingat potensi hutan alam sagu Indonesia yang luas, tetapi
belum dimanfaatkan secara optimal. Mengingat variasi genetik
yang terbesar di dunia, Indonesia berpeluang besar untuk
mengembangkan sagu sebagai sumber energi alternatif masa
datang. Untuk menutupi kebutuhan pangan hanya 5% dari potensi
yang ada, sehingga sisanya dapat dimanfaatkan sebagai sumber
bioetanol. Untuk pengembangan budidaya sagu, masyarakat
selama ini sudah mengenal teknik perbanyakan tanaman sagu
secara vegetatif, sehingga untuk mendorong masyarakat lebih
giat membudidayakan sagu tidak sulit. Pemanfaatan hutan
alam sagu, maupun hutan tanaman sagu, yang diiringi pengembangan
budidaya serta berdirinya industri bioetanol akan dapat
menciptakan lapangan pekerjaan, sehingga akhirnya diharapkan
dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bioethanol bisa dijadikan pengganti bahan bakar minyak tanah.
Selain hemat, pembuatannya bisa dilakukan di rumah sendiri
dengan mudah, selain itu juga lebih ekonomis dibandingkan
menggunakan minyak tanah. Bila sehari menggunakan minyak
tanah seharga Rp 16 ribu, maka dengan bioethanol bisa hemat
Rp 4 ribu. Perbandingan penggunaan bioethanol dan minyak
tanah adalah 1:3. Artinya dengan 3 liter minyak tanah, sebanding
dengan satu liter bio-ethanol. Dengan volume 100 cc akan
membuat api menyala sekitar 30-40 menit.
|